Saturday, May 28, 2011

"Digampar" Tuhan


Saya baru aja pulang dari kegiatan Live In yang diselenggarakan sekolah saya, SMA Santa Ursula pada tanggal 20-27 Mei 2011 kemarin. Kebetulan, saya ditempatkan di rumah Bapak Suparjono, Dusun Tulangan, Desa Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta.

Saya tidak akan menceritakan secara detail apa saja yang saya lakukan disana, tapi saya akan lebih menceritakan tentang nilai-nilai apa saja yang saya dapatkan disana.

Post ini saya beri judul "Digampar" Tuhan, karena memang itulah yang saya rasakan ketika live in.

Sebelum live in, saya benar-benar cuek untuk memikirkan persiapan live in. Saya merasa bahwa saya adalah orang yang lumayan tangguh, jadi saya tidak akan kesulitan ditempatkan dimanapun. Saya ga perlu banyak kawatir tentang keadaan disana dan lainnya.

TAPI, ternyata saya salah.

Saya kebetulan mendapat rumah di daerah "medan terberat". Lokasinya di gunung, semua jalanannya menanjak dan terjal, serta jauh dari rumah yang lainnya. Rumahnya masih beralaskan tanah, dan berdinding kayu.

Keadaan disana memang sangat sederhana, tapi cukup nyaman bagi saya. Tapi perjuangan disana lah yang benar-benar membuat saya agak mengeluh dalam hati. Disana saya benar-benar disadarkan bahwa saya tidak setangguh yang saya pikir.

Bagaimanapun, live in ini membuat saya sangat sadar, bahwa kami sebagai warga kota, telah benar-benar sangat dimudahkan dalam kehidupan kami. Walaupun pasti ada plus minus hidup di desa, saya tetap akan membawa semangat perjuangan di Samigaluh untuk saya jalani di Jakarta.

0 comments:

Post a Comment