Teman yang memberi terang.
Hey! Welcome to 2011! :)
Ini adalah post pertama saya di tahun 2011 yang belum genap 4 hari berjalan.
SMA Santa Ursula lagi sibuk mempersiapkan pertunjukkan kolosalnya, yang bertajuk "PUNAKAWAN". Pertunjukkan ini dibagi dua menjadi festival budaya dan operet. Kebetulan, saya ikut berpartisipasi di operetnya. Operet Punakawan ini juga mengundang Mas Sujiwo Tedjo, seorang seniman terkenal, untuk membantu pertunjukkan kami. Hari ini hari ke dua Mas Tedjo bergabung dengan kami. Dan hari ini beliau memberikan evaluasi yang 'keren' menurut saya. Berikut ini penuturannya:

PUNAKAWAN adalah 4 tokoh pewayangan yang terdiri dari (kiri ke kanan) Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong.
Dan menurut Mas Tedjo, Punakawan melambangkan karakter dalam diri manusia. Berikut ini penuturan beliau yang sudah dipadukan dengan penuturan saya sendiri.
Bagong mencerminkan sisi pemberontakan dari diri kita. Break the habit, and find something new. Bagong inilah yang mendasari munculnya pikiran-pikiran brilian Thomas Alfa Edison, Albert Enstein, dan orang-orang hebat lainnya.
Memang bagong selalu identik dengan keluguan dan kebodohannya. Itu yang menyebabkan tiap pertanyaan yang bagong lontarkan bersifat mendasar, satu hal yang justru dilupakan oleh kaum intelektual.
Petruk. Sisi outgoing dari hidup manusia. Emang terkadang kita perlu sedikit 'cuek' dengan kejadian-kejadian yang terjadi di hidup kita. Cuek aja. Dunia masih terus berputar. Petruk adalah wayang yang paling banyak tersenyum. Diatas segala pergumulan hidup kita, disaat semua keputusasaan, penderitaan, dan lainnya, masih ada satu kekuatan yang masih kita bisa lakukan yaitu tersenyum.
Gareng mencerminkan sisi intelektual manusia. Berpikir, kemampuan mendasar manusia yang harus diatur sedemikian rupa. Segala hal yang terjadi, dikaji ulang, kenapa bisa terjadi seperti itu, solusinya apa. Bukan diterima muluk-muluk.
Tangan gareng yg menggantung (saya kurang bisa menggambarkan posisinya dengan kata-kata) dan tidak bisa diam, menggambarkan pikiran Gareng yang tak terkontrol dan akan terus berjalan. Kaki Gareng yang pincang menggambarkan Gareng yang selalu hati-hati dalam mencetuskan ide atau memutuskan sesuatu. Mata Gareng yang juling menggambarkan Gareng tidak bisa hanya fokus kepada suatu permasalahan, namun harus dilihat secara keseluruhan.
Dan terakhir, Semar, sang moderator, pemikir bijak. Karakter yang paham dan dapat mengatur sifat mana saja yang akan dimunculkan dari manusia.
Tentang pertunjukkan, beliau mempunyai prinsip bahwa teater adalah tentang kerjasama. Peran sekecil apapun menjadi bagian dari keseluruhan teater tersebut.
Mas Tedjo juga menyarankan kami semua untuk bekerja menggunakan HATI. Beliau bercerita bahwa beliau pernah tampil dengan seorang penari (saya lupa namanya) membawakan lagu The Swan. Saat penari tersebut selesai mementaskannya, ada seorang penonton yang datang kepadanya dan menyalaminya. Penonton tersebut buta.
Sang penari melakukan semua tariannya dengan hati, maka pesannya dapat tersampaikan ke hati penonton. Itulah mengapa, sang penonton yang buta dapat merasakan tarian sang penari yang amat bagus.
Itulah yang dapat saya petik hari ini, sebuah evaluasi yang singkat namun sangat berisi dan berhasil membuat takjub satu ruangan saat itu. Semoga pertunjukkan kami sukses!



