Saturday, May 28, 2011

Dari copet sampai ketemu SBY


Masih tentang live in, sekarang saya akan menceritakan tentang pengalaman hidup yang saya dengar sendiri dari Bapak saya disana. Bapak Suparjono, menurut saya, adalah orang yang sangat hebat dan konservatif untuk ukuran orang desa. Beliau adalah lulusan SLTA, cukup tinggi untuk ukuran orang di desa tersebut.

Bapak bercerita bahwa dahulunya ia pernah tinggal di Tangerang dan bekerja sebagai pencopet. Bapak mengalami hidup yang berat disana. Selepas SMA di desa, Bapak merantau ke Jakarta dengan berbekal uang sedikit, dan tidak kenal siapapun di Jakarta. Bapak tersesat sampai ke Tangerang, dan disitu uang perbekalannya habis. Ia terbiasa makan dari makanan sisa orang lain, kemudian berkenalan dengan orang-orang di terminal, dan kelamaan menjadi pengamen dan pencopet.

Bapak bercerita, ia pernah keluar masuk penjara. Saya baru tahu, saat itu sekitar tahun 90an, pencopet dilindungi oleh oknum ABRI. Fakta yang cukup mengejutkan bagi saya.

Kemudian hidup bapak membaik dan beliau mulai mendapat pekerjaan di sebuah pabrik. Dari awalnya mulai dari buruh pabrik, menjadi kepala regu, sampai mempunyai anak buah sebanyak 170an orang. Tapi Bapak merasa kurang puas dengan hidupnya. Beliau masih minum-minuman keras, mabok-mabokan, gonta-ganti pacar, dan sebagainya.

Pada tahun 1994 Bapak menikah dengan Ibu, dan pada tahun 2000 mereka bersama dengan kedua anak kembarnya - Rina dan Rani - kembali ke Samigaluh dan menempati rumah yang saya tempati saat live in. Disinilah Bapak mulai meniti usahanya sebagai peternak kambing. Bapak benar-benar memulai hidup yang baru disini. Tidak sia-sia usahanya, Desember lalu Bapak bahkan bisa berkesempatan bertemu dengan Sultan Hamengkubuwono IX dan bersalaman dengan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, karena memenangkan suatu kejuaraan.

Bayangkan, Bapak yang seorang peternak kambing saja bisa bersalaman dengan SBY, tentu merupakan suatu kebanggan pribadi yang tak terkira baginya. Belum tentu orang kota yang selama ini menganggap remeh kehidupan orang desa bisa mendapat kesempatan yang sama dengan Bapak.

Saat ini, Bapak masih hidup dengan sederhana. Memang penghasilannya mungkin tidak seberapa baginya. Kadang-kadang Bapak juga masih mengalami beberapa kesulitan, namun Bapak memegang teguh prinsipnya, yaitu "Hidup itu adalah Anugerah". Dan prinsip itulah yang Bapak tanamkan kepada saya.

Kedua anak Bapak, Rina dan Rani, saat ini bersekolah di SMA Pius di Purworejo. Mereka tinggal di asrama - pulang bisa 3 bulan sekali - dan mereka mendapat beasiswa penuh disana. Di Samigaluh, hanya anak Bapak yang bersekolah disana. Bapak tidak ingin anaknya mengalami nasib yang serupa dengan dirinya, sehingga Bapak berusaha sekuatnya agar kedua anaknya dapat mengenyam pendidikan setinggi-tingginya.

Selama 5 hari disana, saya benar-benar merasa diperlakukan sebagai anak sendiri. Dan saya bangga memiliki bapak seperti beliau. Saya belajar banyak sekali pelajaran hidup dari Bapak, dan saya berharap pengalaman ini dapat menjadi pelajaran bagi saya, dan kepada kita semua.

"Digampar" Tuhan


Saya baru aja pulang dari kegiatan Live In yang diselenggarakan sekolah saya, SMA Santa Ursula pada tanggal 20-27 Mei 2011 kemarin. Kebetulan, saya ditempatkan di rumah Bapak Suparjono, Dusun Tulangan, Desa Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta.

Saya tidak akan menceritakan secara detail apa saja yang saya lakukan disana, tapi saya akan lebih menceritakan tentang nilai-nilai apa saja yang saya dapatkan disana.

Post ini saya beri judul "Digampar" Tuhan, karena memang itulah yang saya rasakan ketika live in.

Sebelum live in, saya benar-benar cuek untuk memikirkan persiapan live in. Saya merasa bahwa saya adalah orang yang lumayan tangguh, jadi saya tidak akan kesulitan ditempatkan dimanapun. Saya ga perlu banyak kawatir tentang keadaan disana dan lainnya.

TAPI, ternyata saya salah.

Saya kebetulan mendapat rumah di daerah "medan terberat". Lokasinya di gunung, semua jalanannya menanjak dan terjal, serta jauh dari rumah yang lainnya. Rumahnya masih beralaskan tanah, dan berdinding kayu.

Keadaan disana memang sangat sederhana, tapi cukup nyaman bagi saya. Tapi perjuangan disana lah yang benar-benar membuat saya agak mengeluh dalam hati. Disana saya benar-benar disadarkan bahwa saya tidak setangguh yang saya pikir.

Bagaimanapun, live in ini membuat saya sangat sadar, bahwa kami sebagai warga kota, telah benar-benar sangat dimudahkan dalam kehidupan kami. Walaupun pasti ada plus minus hidup di desa, saya tetap akan membawa semangat perjuangan di Samigaluh untuk saya jalani di Jakarta.
Monday, May 16, 2011

beautiful mindset :)


First of all, berhubung hari ini adalah hari pengumuman kelulusan SMA angkatan 2011, saya mau mengucapkan untuk semua yang lulus SMA! Terutama untuk SMA Santa Ursula angkatan 2011 yang berhasil mendapat peringkat 1 se-Jakarta untuk jurusan IPS dan Bahasa serta peringkat 3 se-Jakarta untuk jurusan IPA dan peringkat 1 se-Jakarta Pusat!

Semoga tahun depan (tahun kelulusan saya) bisa lebih baik lagi, bahkan kalau perlu merebut kembali juara umum, peringkat 1 untuk semua jurusan, seperti tahun 2009! :)


Saya bangga menjadi murid SMA Santa Ursula. Bukan hanya karena prestasinya yang sudah saya sebutkan diatas, dan prestasinya yang masih super banyaaaaaaaaaaaaaaak lagi, tapi juga karena mindset yang ditanamkan ke siswinya.

SMA Santa Ursula nyaris ngga pernah - atau mungkin malah ngga pernah - lepas dari peringkat 3 besar di Jakarta. Dan menjadikannya sekolah top di Jakarta, bahkan di Indonesia. Tapi sedari awal, kami selalu ditanamkan untuk ga pernah merasa bahwa kita adalah nomor 1.

Normalnya, dan pasti siapapun yang baru terlibat (baik itu murid baru atau guru baru) yang masuk ke SMA Santa Ursula pasti memuji-muji sekolah kami dengan bilang "Sanur kan selalu nomor satu". Tapi lama kelamaan, kami diajarkan untuk tidak menganggap kami nomor satu, masih banyak saingan berat didepan kami. Mindset itulah yang menyebabkan SMA Santa Ursula selalu berkembang dari tahun ke tahunnya, dan tidak "terlena" dengan predikat nomor satunya.

That's what I call "beautiful mindset". Mental juara. Tapi juga ngga lupa akan saingan-saingan juara yang lainnya :)